Dia dan Kenangan

Aku tak lagi memandangnya, disana
Aku telah membiarkan dia hilang, entah kemana.

Di sini, berdiri aku tanpamu
Hampa memang, tapi engkaulah angin.

Seperti eloknya mentari jingga senja
Aku masih mampu menyaksikan indahnya.

Hilang, ada atau bagaimanapun
Aku adalah kesendirian dalam mimpi, cita dan cinta.

Lihatlah bagaimana kini aku masih bisa tersenyum, tanpamu
Yang kukira dulu aku tak mampu melakukannya.

Biar, gedung-gedung, pepohonan dan apapun yang kini ada disekitarku menyaksikannya

Ini bukan kepalsuan dari hidup, melainkan pembelajaran dari ketulusan.

Sayang, biarlah alam menebarkannya lewat angin
Meleburkannya oleh api
Yakinlah jika Tuhan selalu Mendengar doa-doa kita dahulu.

Seperti halnya air mata
Aku selalu menahannya,
Biar dia tak pernah tahu betapa
diri ini lemah

itulah rindu. bagaimanapun,
kesunyian membuncahkannya
membawa kabar dari masa lalu
bak resapnya air ketanah
basah kuyup diriku.

Cengkrama

Selembar kisah tak ditulis hanya dengan lembar-lembar setuju
Jauh di sana, di entah
Ada seseorang yang memohonkan jadi kekasih

Ini bukan kisah yang kau pandang di kotak dengan layar yang terlalu kecil untuk seseorang masuk
Bukan, ini bukan pertunjukkan tirai-tirai rasa
Ini hanya kelakar
Tak lebih bercengkrama pada kata-

Kata kau pun tahu
“Mungkin
Kau bisa jatuh cinta pada pandangan pertama,
Tapi keputusan untuk benar-benar jatuh
Butuh waktu
Tak separuh
Utuh seluruh”

Ya, lalu mesti dengan apa kubandingkan
Jauh jarak jauh pandang
Jika bukan dengan doa dan
cengkrama

Jika

Jika saja jam tangan pemberianmu mati
Aku akan berlari menuju tukang arloji
Memberikan ijin pada tukang
memeriksa dan memperbaiki

Jika saja
Jam sudah bisa menunjukkan waktu
Kembali
Kupandang tubuhmu sudah pergi
Aku akan belajar pada ibu
Bagaimana cara menjahit

Biar kurajut air mata
segala apa yang ingin jatuh

Jika saja waktu itu kau tak memberiku jam tangan
Kenangan genggam tangan
ciuman-ciuman hujan
Aku akan berlari seringan angin
Melupakanmu yang berpindah tempat dalam kepala
Bukan lagi kekasih
Sebuah kisah yang ingin kulupakan

Apalah Dayaku yang Tak Bisa Menulis Puisi

Kembang yang mekar itu
kutemukan di wajahmu
Di taman dengan nyala-nyala
kunang-kunang dan kenangan

Apalah dayaku, Perempuan
Aku tak bisa menulis puisi
Yang kutahu hanya memasukkanmu ke dalam kepala
Yang kubisa hanya menyebut namamu dalam doa

Aku menulis apa yang bisa kutemukan di taman
Bangku-bangku yang menunggu pertemuan
Wangi warna yang menunggu malam
Kesendirian, langkah-langkah kaki, jejak-jejak pencarian

Ya, apalah dayaku
Aku tak bisa menulis puisi
Apalagi saat kupandang dunia
dari bola matamu

Siapa

Pandanglah!
Jendela-jendela terbuka
Kelopak-kelopak mata terpejam
Di sebalik pintu sebuah tangan menunggu gemetar
Kepulangan yang akan berkunjung

Angka-angka pada jam dinding berubah bunga nawar
Ingatan adalah durinya yang tajam
Di atas meja, pisau bersitegang dengan apel
Menunggu seseorang datang membunuhnya, lahap

Setelah terpejam
Seusai tenggelam di balik harap-dekap
Mulailah ia membenarkan letak keinginannya
Ia putarkan daun pintu
Menjatuhkan sepi ke lantai puisi (tak perlu menari sebab ini nyanyi sunyi)

Pandanglah!
Dua pasang mata saling melepas resah
Pandang saja
Tak perlu banyak bertanya

;siapa?

Aku Ingin Pulang

Apa yang mesti kubawa
Payung, jas hujan atau sapu tangan

Jalan sunyi ini menahanku
Seperti doa yang sedang ditangguhkan
Aku membiarkan tubuhku tertidur di bantal-bantal kerikil tajam;
Memakamkan kenangan tak perlu

Jalan-jalan yang ingin kau lupakan
Nama-nama yang hanya bisa melukai
seperti pisau dapur
atau pisau kater

di lehermu seutas tali jadi kembang
tangan-tangan melepaskan tegang
Mencari perasaan untuk dikorbankan
Pesan yang memastikan ; aku mencintaimu

Sajak ini tak pernah bertuan
Bagai rindu-rindumu yang tanpa suara
Kebisuanmu yang berbunga mawar

Ini puisi lari ke rumahmu Mengetuk pintu
menitipkan doa dan air mata

Aku
Memejamkan mata di atas lobang kematian
Mendirikan tiang-tiang dan bilik dan atap waktu
Membiarkan hidup membunuhku pelan-

Pelan dengan rindu
kenangan yang barangkali tak perlu,
bagimu